Sunday, 25 March 2012

(oknum-oknum pengendara) motor tukang tabrak penumpang angkot.

Mungkin sebagian besar masyarakat Jakarta setuju bahwa saat ini gangguan terbesar lalu lintas bukanlah disebabkan oleh angkutan umum yang cenderung ugal-ugalan dan gas buang beracun, namun dari pengendara motor yang tidak hanya ugal-ugalan tapi mau menang sendiri, merampas hak pejalan kaki, serta jumlahnya yang membludak yang mengakibatkan volume gas buang yang semakin menggerogoti sistem pernapasan.

Dan untuk pengguna angkot, kini mereka bukan hanya harus berhati-hati saat turun dari angkot karena biasanya, terutama bus kota, tidak benar-benar berhenti saat menurunkan penumpang (sehingga penumpang diharuskan selalu lincah dan turun dengan kaki kiri), namun juga berhati-hati dengan pengendara motor yang siap menabrak dari belakang tanpa merasa bersalah.

Tadi saat saya naik metro mini, seorang laki-laki bersiap untuk turun di daerah bidara cina. Karena metro mininya sudah terlanjur masuk jalur busway di sebelah kanan, bus yang tadinya ngebut mulai mengurangi kecepatan dan berhenti sebentar untuk menurunkan si bapak tadi.

Entah karena terburu-buru atau karena takut metro mininya langsung ngebut saat ia turun, si bapak terlihat tergesa-gesa. Baru saja si bapak turun dari bus, langsung terdengar suara "braaaaakk!!"

Bus berhenti dan semua penumpang melongok ke luar. Saya mengintip lewat pintu depan bus dan melihat si bapak terjatuh ke pinggir jalan dan motor yang menabrak (atau mungkin hanya menyerempet?) terguling tidak jauh dari si bapak. Korban sepertinya hanya mengalami cedera ringan karena masih bisa mengomel di pinggir jalan. Ibu-ibu yang duduk di sebelah saya berasumsi si pengendara motorlah yang salah.

Saya sependapat. Bukan hanya sekali-dua kali saya terancam tertabrak sepeda motor yang dengan cueknya menyalip dari sebelah kiri. Bahkan saat bus yang saya tumpangi sudah sangat minggir ke kiri dan hanya ada sepetak tanah berbatu untuk pejalan kaki. Juga sering mereka terus melaju meskipun saya dan kenek bus sudah melambaikan tangan 'memohon' si pengendara motor untuk berhenti atau setidaknya mengurangi kecepatan. Tapi jarang sekali permohonan itu dikabulkan. Pengendara motor yang kini sudah seperti penguasa jalanan itu tidak peduli. Mungkin mereka berpikir, "toh kalo gue yang nabrak, gue bisa minta support dari temen-temen gue (sesama pengendara motor)".

Memang sudah menjadi rahasia umum kalau motor sekarang berkuasa. Biarpun salah tetap ngotot dan akan dibela teman-temannya.

Pengguna jalan yang lain hanya bisa berhati-hati agar tidak menyenggol pengendara motor atau kalau si motor ngajak ribut, mengalah sajalah.

Kecuali tentu saja Anda mendapat backingan preman Poncol atau Tanah Abang.

Thursday, 22 March 2012

hormatilah lansia, tanpa melihat jenis kelaminnya

Manula itu bukan hanya perempuan, tapi laki-laki juga. Hormatilah bapak-bapak tua, bukan hanya ibu-ibunya saja.

Dalam beberapa hari terakhir ini saya sering sekali melihat bapak-bapak tua diperlakukan semena-mena, mulai dari tidak diberi tempat duduk, diburu-buru saat mau turun, hingga dianggap mengganggu penumpang lain.

Namun kasus yang akan saya ceritakan berikut ini benar-benar keterlaluan.

Bus Transjakarta yang saya tumpangi baru saja bertolak dari halte pertama Cililitan saat sejumlah penumpang di bagian belakang bus mulai berteriak meminta supir untuk membuka pintu. Karena supir sepertinya mengindahkan permintaan tersebut, penumpang di bagian tengah dan depan ikut berteriak dan meminta supir untuk membukakan pintu. Bukannya berhenti sejenak, si supir malah terus melaju sambil menggerutu, lalu membuka pintu tengah bus.

Karena orang yang terjepit di pintu belakang, penumpang lain berteriak lebih keras dan meminta supaya pintu belakang yang dibukakan, bukan pintu tengah. Si supir akhirnya memencet tombol untuk membuka pintu belakang sambil ngomel-ngomel tanpa mengerem bus yang masih melaju.

“MAKANYA PINTUNYA JANGAN DIPEGANG! UDAH DIBILANGIN JUGA!”

Akhirnya pintu belakang terbuka sambil bus masih berjalan agak memelan. Setelah membuka pintu, supir masih menambah omelannya, “DAH, MASIH ADA YANG MAU MAIN-MAIN LAGI?!!”

Penumpang lain kembali ramai dan meminta apakah ada kotak P3K untuk menolong si bapak. Karena awalnya supir tidak menggubris, kondektur mengulang pertanyaan penumpang ke supir. Namun bukannya menjawab baik-baik atau mencoba membantu, supir malah bilang, “Nggak ada! Di sini nggak ada P3K!”

Mbak-mbak di sebelah saya mengeluarkan betadine, dan saya membawakan hansaplast. Saya berjalan ke arah belakang, dan ternyata yang terjepit pintu adalah tangan seorang bapak-bapak tua. Umurnya mungkin sekitar akhir 70an atau awal 80an. Si bapak tua berbaju batik itu gemetar, karena saat saya melihat ke arah tangan si bapak, tangan kanannya sudah bercucuran darah.

Saya rasanya mau nangis :((((

Setelah dipaksa penumpang, akhirnya supir mau memberhentikan bus di halte Cawang UKI (bus Transjakarta PGC-Harmoni harusnya tidak berhenti di halte Cawang UKI dan si supir pun awalnya enggan), agar bapak tua itu bisa mendapatkan perawatan.

Si bapak tadinya nggak mau turun, mau terus aja ke harmoni, katanya. Tapi akhirnya beliau mau juga saat didesak oleh penumpang lain, dan dituntun oleh seorang mas-mas penumpang. Bapak itu jalannya pelan sekali, karena usia dan mungkin karena masih shock. Mas-mas yang menuntun si bapak meminta penjaga halte Cawang UKI untuk mengantarkan si bapak ke UKI.

Mudah-mudahan si bapak mendapatkan perawatan yang layak. Lagipula, tiket bus Transjakarta itu seharusnya sudah termasuk asuransi.

Dan saya sampai sekarang masih menyesal karena tidak ikut turun dari bus dan membantu si bapak. Juga tidak melaporkan supir biadab itu, karena saya pesimis akan ditindaklanjuti.

Tapi kalau ada yang mau menindaklanjuti, saya masih punya catatannya. Saya naik bus Transjakarta PGC-Harmoni, dari terminal PGC (Cililitan), hari Rabu, tanggal 21 Maret 2012, sekitar pukul 10 pagi. Nomor bus Transjakarta yang saya naiki JMT-010 dan ini penampakan si supir dari belakang:


Monday, 20 February 2012

badut kereta

Pagi tadi, entah karena jadwal ngaco atau saya yang salah lihat jadwal, kereta ke selatan adalah yang jenis ekonomi..sampai 3 kereta berturut2. Pheeewww... kayaknya nggak ada pilihan lain deh; terpaksa naik KRL ekonomi nan kacrut itu, meskipun saya mengantongi kartu Commet (Commuter Electronic Ticket) untuk KRL AC komuter.

Naik kereta ekonomi sebenarnya bak nostalgia bagi saya. Saat saya kuliah dulu, saya selalu naik KRL ekonomi. Saat itu, belum ada kereta komuter AC yang berhenti di setiap stasiun. Waktu itu pun, hampir mustahil untuk dapet tempat duduk seperti tadi pagi.. suasananya lengang pula. Tapi suara berisiknya tetap sama (apalagi kalau papasan dengan kereta lain), dagangan yang dijajakan pun masih seru2 punya, belum lagi aroma khas kereta ekonomi itu.. hufff..

Satu hal yang baru saya lihat adalah adanya badut yang bermain akrobat piring. Lumayan lah. At least dia punya satu keahlian yang bisa dia pakai untuk memperoleh uang secara halal. Dia nggak tangan kosong meminta2, dia masih berusaha menghibur dan menunjukkan kemampuannya. Dengan begitu, saya jadi sadar kembali akan keanekaragaman kehidupan yang ada di sekitar saya. Ah, kenapa masih banyak aja orang2 yang susah hidupnya di negeri ini.

Sunday, 25 December 2011

serasa punya supir pribadi



Dan kondektur pribadi.

Tadi saat pulang kerja (ya, saya dapat giliran ngantor di hari Natal) dan berjalan menuju halte bus Transjakarta saya sempat hampir jiper dan bahkan berpikir untuk naik mikrolet saja karena melihar calon penumpang yang sudah berjubel di halte.

Saya menengok ke seberang jalan dan melihat Mikrolet yang menjadi alternatif saya untuk pulang malam itu baru berisi 3 orang. Sepertinya angkot warna telor asin itu tidak akan berangkat dalam waktu dekar karena biasanya supirnya keukeuh baru akan berangkat saat mobilnya penuh, dengan total penumpang kira-kira 14 orang.

Akhirnya saya mencoba bertanya dulu ke mas-mas petugas penyobek tiket bus Transjakarta apakah saya harua menunggu lama untuk mendapatkan bus.

"Mau kemana mbak?", dia jadi balas bertanya. "Ke PGC mas." "Oh kalau ke PGC sih lancar," Saya melanjutkan bertanya sambil tangan saya memberi uang ke dalam loket untuk membeli tiket. "Ooh itu antreannya ke kalideres semua?" "Iya mbak."

Saat ia mengiyakan, datang dua bus Transjakarta berwarna abu-abu yang biasanya dipakai untuk bus ke arah Cililitan.

"PGC nih mbak, tuh yang belakang kosong,"

Ternyata memang bus yang pertama hanya menurunkan penumpang. Saya langsung naik bus kedua, dan bus benar-benar kosong. Kosong di sini tentu maksudnya saya menjadi penumpang satu-satunya, bukan saya yang gantian jadi supir *eaaaaaa*.

Bus Transjakarta dengan kapasitas 32 penumpang duduk ditambah sekitar 50 penumpang berdiri itu kosong melompong. Saya benar-benar merasa seperti naik mobil pribadi ber-AC lengkap dengan supirnya.

Saya juga jadi inget obrolan dengan teman papa saya yang juga suka naik angkutan umum. Meskipun punya mobil pribadi dan uang pensiunnya cukup untuk membayar supir, namun ia lebih suka naik bus.

Saat ditanya kenapa suka naik bus, ia menjawab santai: supirnya banyak, mobilnya tinggal pilih, dan kalau mau ada teman-teman yang mau ikut tinggal naik.

Sebuah pemikiran sederhana yang membuat saya tidak malu naik angkot.

Dan terkadang, kalau sedang beruntung atau kalau kita sudah cukup berpengalaman naik angkot dan suka melakukan pengamatan maka naik angkot adalah sebuah kemewahan.

Dengan harga yang jauh lebih murah dibanding naik taksi, atau bahkan ojek sekalipun.

Seperti pengalaman saya tadi :)

Friday, 23 December 2011

supir tanpa identitas


Sejak maraknya kasus kekerasan bahkan perkosaan dan pembunuhan di angkot, pemerintah sepertinya mencoba mengatasi membangun citra untuk seolah-olah mengatasi tindakan kriminal di angkutan umum.

Sejumlah peraturan semu pun lalu digalakkan: razia kaca film dan pemberlakuan kewajiban supir untuk membawa surat identitas supir serta memakai seragam.

Yang razia kaca film itu memang sangat absurd, karena sama sekali seperti tidak ada usaha unutuk menyelesaikan akar permasalahan. Yang kedua bolehlah, walaupun juga bukan solusi mendasar untuk mencegah tindakan kriminalitas di angkot.

Tapi lumayan juga, rasanya naik angkot lebih aman saat tahu supirnya bukan supir tembak.

Sudah beberapa minggu terakhir ini saya perhatikan adanya kartu identitas sang supir tergantung di kaca spion tengah di sejumlah angkot yang saya naiki. Sebagian besar supir juga memakai seragam, sebuah pertanda yang cukup baik menurut saya.

Namun seiring berjalannya waktu, serta apabila kita naik angkot ke arah yang lebih "rawan", maka kartu identitas supir makin langka, dan jumlah supir yang memakai seragam bisa dihitung dengan jari sebelah tangan.

Seperti yang saya alami beberapa kali saat pulang dari kantor. Mikrolet yang saya ngebut gila-gilaan, ditambah ngepot dan ngerem mendadak dengan jarak yang tinggal beberapa sentimeter saja.

Saya kebetulan duduk di kursi tepat di belakang supir dan mulai memperhatikan dashboard. Tidak terlihat kartu identitas pengemudi di sana. Saya lalu memperhatikan wajah si supir dari kaca spion. Dari wajahnya ia masih terlihat sangat muda, mungkin sekitar awal 20an atau bahkan belum genap 20 tahun. Kontur mukanya keras, dan memang mukanya tidak familiar sebagai supir Mikrolet trayek tersebut.

Saya segera menduga bahwa dia adalah supir tembak.

Kali keduanya adalah saat saya naik Metro Mini. Memang rata-rata supir Metro Mini ngebut-ngebut, apalagi kalau bus terakhir, sepertinya mereka ingin segera menyudahi hari kerja mereka.

Namun supir kali itu bukan cuma tukang ngebut, tapi juga bolot alias kurang pendengarannya. Atau mungkin pikirannya sedang melayang entah kemana, tenggelam dalam suara deru mesin solar. Setiap ada yang mengetuk langit-langit bus tanda mau turun, ia tetap tidak mengurangi kecepatannya. Bahkan saat sang kenek sudah berteriak-teriak, "KIRI! KIRI!!", tetap saja ia melaju hingga akhirnya hampir semua orang berteriak minta berhenti diselingi sindiran, "kalem bang!"

Saya lalu melihat ke arah tempat kerja si supir. Ada kartu identitas di sana, digantung di tempelan jendela namun dalam keadaan terbalik sehingga tidak terlihat apakah itu memang benar kartunya atau milik orang lain. Lagi-lagi saya menduga, dia adalah supir tembak.

Entah sampai kapan supir tembak ini bisa dibasmi. Dua kasus perkosaan (yang satu bahkan berakhir dengan pembunuhan) yang terjadi di angkot dilakukan oleh supir tembak.

Tapi semua tindak kejahatan di Indonesia, baik pidana maupun perdata, hanya bisa diatasi apabila aparat penegak hukumnya bersih. Kalau masih belum bisa diandalkan, ya entah sampai kapan negara ini akan terus terpuruk.

kenek cilik

Tadi siang saat saya baru saja naik ke atas bus metro mini, saya langsung merogoh kantong celana saya (bukan kantong celana orang tentunya) untuk mengambil uang ongkos perjalanan. Sayapun otomatis memberikan uang saya ke kondektur (kenek) yang berdiri di pintu bus.

Tapi saat saya menunggu kembalian, saya bertanya-tanya mengapa sang kenek tidak membawa uang sepeserpun, kecuali uang yang saya berikan.

Tak lama kemudian, saya mendengar suara 'kecrek-kecrek' tanda kenek minta duit. Kemudian saya melihat kenek yang satunya lagi, yang adalah seorang bocah SD!

Sepertinya karena memang sudah memasuki waktu liburan sekolah jadi si anak 'ngobyek' membantu orang tuanya. Bisa jadi si anak adalah putra dari kenek atau supir metro mini waktu itu. Dia juga terlihat cukup terampil dalam meminta ongkos dan memberi kembalian, serta menghitung uang hasil jerih payahnya, yang entah akan disetor ke siapa.

Ironisnya, semalam saya baru saja menonton Mata Najwa dengan topik "Ironi Pendidikan". Hingga kini masih banyak anak2 yang menjadi korban minimnya tingkat pendidikan. Tidak cuma terjerat lingkaran setan kemiskinan karena mahalnya biaya pendidikan (padahal gaji guru sudah jauh lebih besar - doh!) namun juga lingkaran setan kemerosotan moral akibat tingginya budaya konsumerisme dan materialisme.

The (love of) money is the root to all evil.

Sampai kapan?

*sigh*