Dan kondektur pribadi.
Tadi saat pulang kerja (ya, saya dapat giliran ngantor di hari Natal) dan berjalan menuju halte bus Transjakarta saya sempat hampir jiper dan bahkan berpikir untuk naik mikrolet saja karena melihar calon penumpang yang sudah berjubel di halte.
Saya menengok ke seberang jalan dan melihat Mikrolet yang menjadi alternatif saya untuk pulang malam itu baru berisi 3 orang. Sepertinya angkot warna telor asin itu tidak akan berangkat dalam waktu dekar karena biasanya supirnya keukeuh baru akan berangkat saat mobilnya penuh, dengan total penumpang kira-kira 14 orang.
Akhirnya saya mencoba bertanya dulu ke mas-mas petugas penyobek tiket bus Transjakarta apakah saya harua menunggu lama untuk mendapatkan bus.
"Mau kemana mbak?", dia jadi balas bertanya. "Ke PGC mas." "Oh kalau ke PGC sih lancar," Saya melanjutkan bertanya sambil tangan saya memberi uang ke dalam loket untuk membeli tiket. "Ooh itu antreannya ke kalideres semua?" "Iya mbak."
Saat ia mengiyakan, datang dua bus Transjakarta berwarna abu-abu yang biasanya dipakai untuk bus ke arah Cililitan.
"PGC nih mbak, tuh yang belakang kosong,"
Ternyata memang bus yang pertama hanya menurunkan penumpang. Saya langsung naik bus kedua, dan bus benar-benar kosong. Kosong di sini tentu maksudnya saya menjadi penumpang satu-satunya, bukan saya yang gantian jadi supir *eaaaaaa*.
Bus Transjakarta dengan kapasitas 32 penumpang duduk ditambah sekitar 50 penumpang berdiri itu kosong melompong. Saya benar-benar merasa seperti naik mobil pribadi ber-AC lengkap dengan supirnya.
Saya juga jadi inget obrolan dengan teman papa saya yang juga suka naik angkutan umum. Meskipun punya mobil pribadi dan uang pensiunnya cukup untuk membayar supir, namun ia lebih suka naik bus.
Saat ditanya kenapa suka naik bus, ia menjawab santai: supirnya banyak, mobilnya tinggal pilih, dan kalau mau ada teman-teman yang mau ikut tinggal naik.
Sebuah pemikiran sederhana yang membuat saya tidak malu naik angkot.
Dan terkadang, kalau sedang beruntung atau kalau kita sudah cukup berpengalaman naik angkot dan suka melakukan pengamatan maka naik angkot adalah sebuah kemewahan.
Dengan harga yang jauh lebih murah dibanding naik taksi, atau bahkan ojek sekalipun.
Seperti pengalaman saya tadi :)
No comments:
Post a Comment