Wednesday, 16 November 2011

[link] tulisan-tulisan sebelumnya

Beberapa tulisan pengalaman saya naik angkot sebelumnya saya tulis di sini
Teman saya, Nia, menuliskan pengalamannya naik KRL di sini
Selamat membaca dan bernostalgia :)



Tuesday, 15 November 2011

kembalinya angkot traveller

Tulisan mengenai pengalaman sehari-hari naik angkot sebenarnya sudah saya mulai bersama Nia, teman saya sesama penerjemah saat itu, sekitar tahun 2008. Namun saat saya kuliah lagi di Belanda pengalaman naik angkot jadi berkurang, karena sehari-harinya saya lebih memilih naik sepeda karena murah dan mudah (tentu saja karena kota yang saya tinggali juga cukup kecil jadi kemana-mana gampang) atau malahan, jalan kaki karena kebetulan saya tinggal di tengah kota.

Saat kembali ke Jakarta lalu bekerja kembali di kantor yang lama pada pertengahan 2011, saya akhirnya kembali lagi naik angkot. Dan tiap hari sepertinya ada saja pengalaman menarik yang saya ingin tuliskan. Mungkin juga karena waktu tempuh yang cukup lama (minimal 1 jam 20 menit), jadinya saya punya banyak waktu di jalan. Waktu ini biasanya saya pakai untuk membaca buku, mendengarkan musik, berkontemplasi, mengamati orang, dan membuat draft untuk blog.

Terus terang saja, saya suka naik angkot. Karena selain murah dan tidak bikin capek, juga saya merasa berkontribusi terhadap berkurangnya kemacetan dan polusi udara. Mungkin ada yang bilang angkotlah sumber polusi udara di Jakarta. Tapi tidak menurut saya. Angkutan umum setidaknya memuat 12 orang per mobil, sementara apa ada angkutan pribadi (selain jemputan) yang mengangkut lebih dari itu? Dan sisanya apa? Motor. Ribuan banyaknya dan masing-masing mengeluarkan gas beracun. Eugh.

Mungkin kalo ada yang punya pengalaman seru naik angkot (baik suka maupun duka) juga bisa di-share kesini. Thanks.