Sunday, 25 December 2011

serasa punya supir pribadi



Dan kondektur pribadi.

Tadi saat pulang kerja (ya, saya dapat giliran ngantor di hari Natal) dan berjalan menuju halte bus Transjakarta saya sempat hampir jiper dan bahkan berpikir untuk naik mikrolet saja karena melihar calon penumpang yang sudah berjubel di halte.

Saya menengok ke seberang jalan dan melihat Mikrolet yang menjadi alternatif saya untuk pulang malam itu baru berisi 3 orang. Sepertinya angkot warna telor asin itu tidak akan berangkat dalam waktu dekar karena biasanya supirnya keukeuh baru akan berangkat saat mobilnya penuh, dengan total penumpang kira-kira 14 orang.

Akhirnya saya mencoba bertanya dulu ke mas-mas petugas penyobek tiket bus Transjakarta apakah saya harua menunggu lama untuk mendapatkan bus.

"Mau kemana mbak?", dia jadi balas bertanya. "Ke PGC mas." "Oh kalau ke PGC sih lancar," Saya melanjutkan bertanya sambil tangan saya memberi uang ke dalam loket untuk membeli tiket. "Ooh itu antreannya ke kalideres semua?" "Iya mbak."

Saat ia mengiyakan, datang dua bus Transjakarta berwarna abu-abu yang biasanya dipakai untuk bus ke arah Cililitan.

"PGC nih mbak, tuh yang belakang kosong,"

Ternyata memang bus yang pertama hanya menurunkan penumpang. Saya langsung naik bus kedua, dan bus benar-benar kosong. Kosong di sini tentu maksudnya saya menjadi penumpang satu-satunya, bukan saya yang gantian jadi supir *eaaaaaa*.

Bus Transjakarta dengan kapasitas 32 penumpang duduk ditambah sekitar 50 penumpang berdiri itu kosong melompong. Saya benar-benar merasa seperti naik mobil pribadi ber-AC lengkap dengan supirnya.

Saya juga jadi inget obrolan dengan teman papa saya yang juga suka naik angkutan umum. Meskipun punya mobil pribadi dan uang pensiunnya cukup untuk membayar supir, namun ia lebih suka naik bus.

Saat ditanya kenapa suka naik bus, ia menjawab santai: supirnya banyak, mobilnya tinggal pilih, dan kalau mau ada teman-teman yang mau ikut tinggal naik.

Sebuah pemikiran sederhana yang membuat saya tidak malu naik angkot.

Dan terkadang, kalau sedang beruntung atau kalau kita sudah cukup berpengalaman naik angkot dan suka melakukan pengamatan maka naik angkot adalah sebuah kemewahan.

Dengan harga yang jauh lebih murah dibanding naik taksi, atau bahkan ojek sekalipun.

Seperti pengalaman saya tadi :)

Friday, 23 December 2011

supir tanpa identitas


Sejak maraknya kasus kekerasan bahkan perkosaan dan pembunuhan di angkot, pemerintah sepertinya mencoba mengatasi membangun citra untuk seolah-olah mengatasi tindakan kriminal di angkutan umum.

Sejumlah peraturan semu pun lalu digalakkan: razia kaca film dan pemberlakuan kewajiban supir untuk membawa surat identitas supir serta memakai seragam.

Yang razia kaca film itu memang sangat absurd, karena sama sekali seperti tidak ada usaha unutuk menyelesaikan akar permasalahan. Yang kedua bolehlah, walaupun juga bukan solusi mendasar untuk mencegah tindakan kriminalitas di angkot.

Tapi lumayan juga, rasanya naik angkot lebih aman saat tahu supirnya bukan supir tembak.

Sudah beberapa minggu terakhir ini saya perhatikan adanya kartu identitas sang supir tergantung di kaca spion tengah di sejumlah angkot yang saya naiki. Sebagian besar supir juga memakai seragam, sebuah pertanda yang cukup baik menurut saya.

Namun seiring berjalannya waktu, serta apabila kita naik angkot ke arah yang lebih "rawan", maka kartu identitas supir makin langka, dan jumlah supir yang memakai seragam bisa dihitung dengan jari sebelah tangan.

Seperti yang saya alami beberapa kali saat pulang dari kantor. Mikrolet yang saya ngebut gila-gilaan, ditambah ngepot dan ngerem mendadak dengan jarak yang tinggal beberapa sentimeter saja.

Saya kebetulan duduk di kursi tepat di belakang supir dan mulai memperhatikan dashboard. Tidak terlihat kartu identitas pengemudi di sana. Saya lalu memperhatikan wajah si supir dari kaca spion. Dari wajahnya ia masih terlihat sangat muda, mungkin sekitar awal 20an atau bahkan belum genap 20 tahun. Kontur mukanya keras, dan memang mukanya tidak familiar sebagai supir Mikrolet trayek tersebut.

Saya segera menduga bahwa dia adalah supir tembak.

Kali keduanya adalah saat saya naik Metro Mini. Memang rata-rata supir Metro Mini ngebut-ngebut, apalagi kalau bus terakhir, sepertinya mereka ingin segera menyudahi hari kerja mereka.

Namun supir kali itu bukan cuma tukang ngebut, tapi juga bolot alias kurang pendengarannya. Atau mungkin pikirannya sedang melayang entah kemana, tenggelam dalam suara deru mesin solar. Setiap ada yang mengetuk langit-langit bus tanda mau turun, ia tetap tidak mengurangi kecepatannya. Bahkan saat sang kenek sudah berteriak-teriak, "KIRI! KIRI!!", tetap saja ia melaju hingga akhirnya hampir semua orang berteriak minta berhenti diselingi sindiran, "kalem bang!"

Saya lalu melihat ke arah tempat kerja si supir. Ada kartu identitas di sana, digantung di tempelan jendela namun dalam keadaan terbalik sehingga tidak terlihat apakah itu memang benar kartunya atau milik orang lain. Lagi-lagi saya menduga, dia adalah supir tembak.

Entah sampai kapan supir tembak ini bisa dibasmi. Dua kasus perkosaan (yang satu bahkan berakhir dengan pembunuhan) yang terjadi di angkot dilakukan oleh supir tembak.

Tapi semua tindak kejahatan di Indonesia, baik pidana maupun perdata, hanya bisa diatasi apabila aparat penegak hukumnya bersih. Kalau masih belum bisa diandalkan, ya entah sampai kapan negara ini akan terus terpuruk.

kenek cilik

Tadi siang saat saya baru saja naik ke atas bus metro mini, saya langsung merogoh kantong celana saya (bukan kantong celana orang tentunya) untuk mengambil uang ongkos perjalanan. Sayapun otomatis memberikan uang saya ke kondektur (kenek) yang berdiri di pintu bus.

Tapi saat saya menunggu kembalian, saya bertanya-tanya mengapa sang kenek tidak membawa uang sepeserpun, kecuali uang yang saya berikan.

Tak lama kemudian, saya mendengar suara 'kecrek-kecrek' tanda kenek minta duit. Kemudian saya melihat kenek yang satunya lagi, yang adalah seorang bocah SD!

Sepertinya karena memang sudah memasuki waktu liburan sekolah jadi si anak 'ngobyek' membantu orang tuanya. Bisa jadi si anak adalah putra dari kenek atau supir metro mini waktu itu. Dia juga terlihat cukup terampil dalam meminta ongkos dan memberi kembalian, serta menghitung uang hasil jerih payahnya, yang entah akan disetor ke siapa.

Ironisnya, semalam saya baru saja menonton Mata Najwa dengan topik "Ironi Pendidikan". Hingga kini masih banyak anak2 yang menjadi korban minimnya tingkat pendidikan. Tidak cuma terjerat lingkaran setan kemiskinan karena mahalnya biaya pendidikan (padahal gaji guru sudah jauh lebih besar - doh!) namun juga lingkaran setan kemerosotan moral akibat tingginya budaya konsumerisme dan materialisme.

The (love of) money is the root to all evil.

Sampai kapan?

*sigh*