Mungkin sebagian besar masyarakat Jakarta setuju bahwa saat ini gangguan terbesar lalu lintas bukanlah disebabkan oleh angkutan umum yang cenderung ugal-ugalan dan gas buang beracun, namun dari pengendara motor yang tidak hanya ugal-ugalan tapi mau menang sendiri, merampas hak pejalan kaki, serta jumlahnya yang membludak yang mengakibatkan volume gas buang yang semakin menggerogoti sistem pernapasan.
Dan untuk pengguna angkot, kini mereka bukan hanya harus berhati-hati saat turun dari angkot karena biasanya, terutama bus kota, tidak benar-benar berhenti saat menurunkan penumpang (sehingga penumpang diharuskan selalu lincah dan turun dengan kaki kiri), namun juga berhati-hati dengan pengendara motor yang siap menabrak dari belakang tanpa merasa bersalah.
Tadi saat saya naik metro mini, seorang laki-laki bersiap untuk turun di daerah bidara cina. Karena metro mininya sudah terlanjur masuk jalur busway di sebelah kanan, bus yang tadinya ngebut mulai mengurangi kecepatan dan berhenti sebentar untuk menurunkan si bapak tadi.
Entah karena terburu-buru atau karena takut metro mininya langsung ngebut saat ia turun, si bapak terlihat tergesa-gesa. Baru saja si bapak turun dari bus, langsung terdengar suara "braaaaakk!!"
Bus berhenti dan semua penumpang melongok ke luar. Saya mengintip lewat pintu depan bus dan melihat si bapak terjatuh ke pinggir jalan dan motor yang menabrak (atau mungkin hanya menyerempet?) terguling tidak jauh dari si bapak. Korban sepertinya hanya mengalami cedera ringan karena masih bisa mengomel di pinggir jalan. Ibu-ibu yang duduk di sebelah saya berasumsi si pengendara motorlah yang salah.
Saya sependapat. Bukan hanya sekali-dua kali saya terancam tertabrak sepeda motor yang dengan cueknya menyalip dari sebelah kiri. Bahkan saat bus yang saya tumpangi sudah sangat minggir ke kiri dan hanya ada sepetak tanah berbatu untuk pejalan kaki. Juga sering mereka terus melaju meskipun saya dan kenek bus sudah melambaikan tangan 'memohon' si pengendara motor untuk berhenti atau setidaknya mengurangi kecepatan. Tapi jarang sekali permohonan itu dikabulkan. Pengendara motor yang kini sudah seperti penguasa jalanan itu tidak peduli. Mungkin mereka berpikir, "toh kalo gue yang nabrak, gue bisa minta support dari temen-temen gue (sesama pengendara motor)".
Memang sudah menjadi rahasia umum kalau motor sekarang berkuasa. Biarpun salah tetap ngotot dan akan dibela teman-temannya.
Pengguna jalan yang lain hanya bisa berhati-hati agar tidak menyenggol pengendara motor atau kalau si motor ngajak ribut, mengalah sajalah.
Kecuali tentu saja Anda mendapat backingan preman Poncol atau Tanah Abang.
Dan untuk pengguna angkot, kini mereka bukan hanya harus berhati-hati saat turun dari angkot karena biasanya, terutama bus kota, tidak benar-benar berhenti saat menurunkan penumpang (sehingga penumpang diharuskan selalu lincah dan turun dengan kaki kiri), namun juga berhati-hati dengan pengendara motor yang siap menabrak dari belakang tanpa merasa bersalah.
Tadi saat saya naik metro mini, seorang laki-laki bersiap untuk turun di daerah bidara cina. Karena metro mininya sudah terlanjur masuk jalur busway di sebelah kanan, bus yang tadinya ngebut mulai mengurangi kecepatan dan berhenti sebentar untuk menurunkan si bapak tadi.
Entah karena terburu-buru atau karena takut metro mininya langsung ngebut saat ia turun, si bapak terlihat tergesa-gesa. Baru saja si bapak turun dari bus, langsung terdengar suara "braaaaakk!!"
Bus berhenti dan semua penumpang melongok ke luar. Saya mengintip lewat pintu depan bus dan melihat si bapak terjatuh ke pinggir jalan dan motor yang menabrak (atau mungkin hanya menyerempet?) terguling tidak jauh dari si bapak. Korban sepertinya hanya mengalami cedera ringan karena masih bisa mengomel di pinggir jalan. Ibu-ibu yang duduk di sebelah saya berasumsi si pengendara motorlah yang salah.
Saya sependapat. Bukan hanya sekali-dua kali saya terancam tertabrak sepeda motor yang dengan cueknya menyalip dari sebelah kiri. Bahkan saat bus yang saya tumpangi sudah sangat minggir ke kiri dan hanya ada sepetak tanah berbatu untuk pejalan kaki. Juga sering mereka terus melaju meskipun saya dan kenek bus sudah melambaikan tangan 'memohon' si pengendara motor untuk berhenti atau setidaknya mengurangi kecepatan. Tapi jarang sekali permohonan itu dikabulkan. Pengendara motor yang kini sudah seperti penguasa jalanan itu tidak peduli. Mungkin mereka berpikir, "toh kalo gue yang nabrak, gue bisa minta support dari temen-temen gue (sesama pengendara motor)".
Memang sudah menjadi rahasia umum kalau motor sekarang berkuasa. Biarpun salah tetap ngotot dan akan dibela teman-temannya.
Pengguna jalan yang lain hanya bisa berhati-hati agar tidak menyenggol pengendara motor atau kalau si motor ngajak ribut, mengalah sajalah.
Kecuali tentu saja Anda mendapat backingan preman Poncol atau Tanah Abang.
