Thursday, 22 March 2012

hormatilah lansia, tanpa melihat jenis kelaminnya

Manula itu bukan hanya perempuan, tapi laki-laki juga. Hormatilah bapak-bapak tua, bukan hanya ibu-ibunya saja.

Dalam beberapa hari terakhir ini saya sering sekali melihat bapak-bapak tua diperlakukan semena-mena, mulai dari tidak diberi tempat duduk, diburu-buru saat mau turun, hingga dianggap mengganggu penumpang lain.

Namun kasus yang akan saya ceritakan berikut ini benar-benar keterlaluan.

Bus Transjakarta yang saya tumpangi baru saja bertolak dari halte pertama Cililitan saat sejumlah penumpang di bagian belakang bus mulai berteriak meminta supir untuk membuka pintu. Karena supir sepertinya mengindahkan permintaan tersebut, penumpang di bagian tengah dan depan ikut berteriak dan meminta supir untuk membukakan pintu. Bukannya berhenti sejenak, si supir malah terus melaju sambil menggerutu, lalu membuka pintu tengah bus.

Karena orang yang terjepit di pintu belakang, penumpang lain berteriak lebih keras dan meminta supaya pintu belakang yang dibukakan, bukan pintu tengah. Si supir akhirnya memencet tombol untuk membuka pintu belakang sambil ngomel-ngomel tanpa mengerem bus yang masih melaju.

“MAKANYA PINTUNYA JANGAN DIPEGANG! UDAH DIBILANGIN JUGA!”

Akhirnya pintu belakang terbuka sambil bus masih berjalan agak memelan. Setelah membuka pintu, supir masih menambah omelannya, “DAH, MASIH ADA YANG MAU MAIN-MAIN LAGI?!!”

Penumpang lain kembali ramai dan meminta apakah ada kotak P3K untuk menolong si bapak. Karena awalnya supir tidak menggubris, kondektur mengulang pertanyaan penumpang ke supir. Namun bukannya menjawab baik-baik atau mencoba membantu, supir malah bilang, “Nggak ada! Di sini nggak ada P3K!”

Mbak-mbak di sebelah saya mengeluarkan betadine, dan saya membawakan hansaplast. Saya berjalan ke arah belakang, dan ternyata yang terjepit pintu adalah tangan seorang bapak-bapak tua. Umurnya mungkin sekitar akhir 70an atau awal 80an. Si bapak tua berbaju batik itu gemetar, karena saat saya melihat ke arah tangan si bapak, tangan kanannya sudah bercucuran darah.

Saya rasanya mau nangis :((((

Setelah dipaksa penumpang, akhirnya supir mau memberhentikan bus di halte Cawang UKI (bus Transjakarta PGC-Harmoni harusnya tidak berhenti di halte Cawang UKI dan si supir pun awalnya enggan), agar bapak tua itu bisa mendapatkan perawatan.

Si bapak tadinya nggak mau turun, mau terus aja ke harmoni, katanya. Tapi akhirnya beliau mau juga saat didesak oleh penumpang lain, dan dituntun oleh seorang mas-mas penumpang. Bapak itu jalannya pelan sekali, karena usia dan mungkin karena masih shock. Mas-mas yang menuntun si bapak meminta penjaga halte Cawang UKI untuk mengantarkan si bapak ke UKI.

Mudah-mudahan si bapak mendapatkan perawatan yang layak. Lagipula, tiket bus Transjakarta itu seharusnya sudah termasuk asuransi.

Dan saya sampai sekarang masih menyesal karena tidak ikut turun dari bus dan membantu si bapak. Juga tidak melaporkan supir biadab itu, karena saya pesimis akan ditindaklanjuti.

Tapi kalau ada yang mau menindaklanjuti, saya masih punya catatannya. Saya naik bus Transjakarta PGC-Harmoni, dari terminal PGC (Cililitan), hari Rabu, tanggal 21 Maret 2012, sekitar pukul 10 pagi. Nomor bus Transjakarta yang saya naiki JMT-010 dan ini penampakan si supir dari belakang:


No comments:

Post a Comment