Friday, 23 December 2011

supir tanpa identitas


Sejak maraknya kasus kekerasan bahkan perkosaan dan pembunuhan di angkot, pemerintah sepertinya mencoba mengatasi membangun citra untuk seolah-olah mengatasi tindakan kriminal di angkutan umum.

Sejumlah peraturan semu pun lalu digalakkan: razia kaca film dan pemberlakuan kewajiban supir untuk membawa surat identitas supir serta memakai seragam.

Yang razia kaca film itu memang sangat absurd, karena sama sekali seperti tidak ada usaha unutuk menyelesaikan akar permasalahan. Yang kedua bolehlah, walaupun juga bukan solusi mendasar untuk mencegah tindakan kriminalitas di angkot.

Tapi lumayan juga, rasanya naik angkot lebih aman saat tahu supirnya bukan supir tembak.

Sudah beberapa minggu terakhir ini saya perhatikan adanya kartu identitas sang supir tergantung di kaca spion tengah di sejumlah angkot yang saya naiki. Sebagian besar supir juga memakai seragam, sebuah pertanda yang cukup baik menurut saya.

Namun seiring berjalannya waktu, serta apabila kita naik angkot ke arah yang lebih "rawan", maka kartu identitas supir makin langka, dan jumlah supir yang memakai seragam bisa dihitung dengan jari sebelah tangan.

Seperti yang saya alami beberapa kali saat pulang dari kantor. Mikrolet yang saya ngebut gila-gilaan, ditambah ngepot dan ngerem mendadak dengan jarak yang tinggal beberapa sentimeter saja.

Saya kebetulan duduk di kursi tepat di belakang supir dan mulai memperhatikan dashboard. Tidak terlihat kartu identitas pengemudi di sana. Saya lalu memperhatikan wajah si supir dari kaca spion. Dari wajahnya ia masih terlihat sangat muda, mungkin sekitar awal 20an atau bahkan belum genap 20 tahun. Kontur mukanya keras, dan memang mukanya tidak familiar sebagai supir Mikrolet trayek tersebut.

Saya segera menduga bahwa dia adalah supir tembak.

Kali keduanya adalah saat saya naik Metro Mini. Memang rata-rata supir Metro Mini ngebut-ngebut, apalagi kalau bus terakhir, sepertinya mereka ingin segera menyudahi hari kerja mereka.

Namun supir kali itu bukan cuma tukang ngebut, tapi juga bolot alias kurang pendengarannya. Atau mungkin pikirannya sedang melayang entah kemana, tenggelam dalam suara deru mesin solar. Setiap ada yang mengetuk langit-langit bus tanda mau turun, ia tetap tidak mengurangi kecepatannya. Bahkan saat sang kenek sudah berteriak-teriak, "KIRI! KIRI!!", tetap saja ia melaju hingga akhirnya hampir semua orang berteriak minta berhenti diselingi sindiran, "kalem bang!"

Saya lalu melihat ke arah tempat kerja si supir. Ada kartu identitas di sana, digantung di tempelan jendela namun dalam keadaan terbalik sehingga tidak terlihat apakah itu memang benar kartunya atau milik orang lain. Lagi-lagi saya menduga, dia adalah supir tembak.

Entah sampai kapan supir tembak ini bisa dibasmi. Dua kasus perkosaan (yang satu bahkan berakhir dengan pembunuhan) yang terjadi di angkot dilakukan oleh supir tembak.

Tapi semua tindak kejahatan di Indonesia, baik pidana maupun perdata, hanya bisa diatasi apabila aparat penegak hukumnya bersih. Kalau masih belum bisa diandalkan, ya entah sampai kapan negara ini akan terus terpuruk.

No comments:

Post a Comment